Umat Islam harus berhati-hati dalam memilih dan meminum obat, karena ada beberapa bahan haram yang ada di dalam obat. Meski tidak semua obat mengandung bahan haram, namun ada beberapa zat haram yang ditambahkan dalam obat yang harus diwaspadai. Ustad Nanung Danar Dono, Ph.D, menyampaikan itu dalam pengajian karyawan di masjid Multazam, RSIY PDHI, Kalasan, kemarin.

Ustad Nanung kemudian menyebut beberapa bahan haram yang sering ditambahkan pada obat-obatan. Pertama, Khamr, zat ini sering ditambahkan pada obat flu cair. Ada beberapa obat yang memasukkan khamr di dalamnya, padahal fungsinya sama-sekali bukan sebagai obat. Keberadaan al-kohol atau etanol pada obat flu cair itu bukan sebagai obat, tetapi sebagai bahan pelarut saja. “Nabi saw melarang sahabat menggunakan khamr sebagai campuran obat karena Allah tidak menjadikan obat dari sesuatu yang diharamkan,” tandas Ustad Nanung.

Ustad Nanung Danar Dono, PhD sedang menyampaikan materi.

Kedua, Gelatin atau senyawa turunan lemak yang diambil dari tulang atau kulit. Bahan ini banyak dipakai untuk membungkus obat pada obat yang berbentuk kapsul. Tujuannya, agar obat tidak rusak oleh asam lambung saat ditelan, tidak ditolak oleh rongga mulut karena pahit, atau juga karena baunya terlalu nyengat. Menurut Ustad Nanung, bila gelatin itu dibuat dari tulang atau kulit babi, maka hukumnya jelas haram. “Gelatin dari daging babi itu memang popular karena harganya terjangkau, tersedia di pasaran, dan tingkat kelenturannya paling bagus,” ungkapnya.

Ketiga, Gliserin atau senyawa turunan lemak. Kadang dipakai untuk bahan perekat kapsul. Status kehalalannya menurut ustad Nanung, tergantung dari kehalalan lemak yang dipakai. “Menjadi haram bila yang dipakai berasal dari lemak babi,” jelasnya.

Keempat, Plasenta atau organ yang terbentuk di dalam rahim seorang ibu ketika terjadi pertumbuhan janin. Menurut ustad Nanung, plasenta kadang dipakai untuk bahan obat luka bakar sehingga luka-luka bakar tersebut menjadi tidak kelihatan. “Padahal MUI telah melarang bahwa organ tubuh yang telah keluar dari tubuh tidak boleh dipakai untuk bahan kosmetik dan obat,” tandasnya.

Kelima, urine atau air seni. Urin adalah kotoran dan najis. Dalam Islam, sangat jelas bagaimana hukumnya urin yaitu najis. Barang najis tidak boleh menjadi obat atau bahan obat, apa pun alasannya. “Para Urolog juga tidak percaya bahwa di urin ada unsure obatnya,” terang ustad Nanung.

Keenam, Sodium warfarin. Menurut ustad Nanung, bahan ini sering dipakai untuk peluruh endapan-endapan pada dinding pembuluh darah. Bahan obat ini memang paling bagus diambil dari babi, maka hukumnya menjadi haram. Meski demikian, Ustad Nanung membolehkannya bila dalam keadaan darurat seperti tidak ada obat lain yang halal sementara kondisi pasien sudah kritis. “Syaratnya adalah dararut, kita tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, dan bila ada alternatif lain segera ditinggalkan,” jelasnya.

Print Friendly, PDF & Email
Write a comment:

*

Your email address will not be published.

© 2019-IT Kreatif

For emergency cases