Mengapa Harus Cek Laboratorium Saat Sakit?

Oleh: Erica Septi Widya, (Analis Kesehatan RSIY PDHI)

Penulis: Erica Septi W

Saat kita sedang sakit, dokter sering menyarankan untuk cek laboratorium. Kenapa sih kita disarankan untuk cek? Pemeriksaan laboratorium sebenarnya merupakan bagian dari proses medis, baik sejak awal untuk membantu penegakkan diagnosa hingga pemantauan perkembangan terapi. Ada beberapa tujuan pemeriksaan laboratorium yang dilakukan dokter kepada pasien. Di antaranya skrining/uji saring suatu penyakit, menunjang diagnosis, memantau pengobatan/follow up terapi, dan menentukan treatment/pengobatan.

Apa saja sih yang bisa dicek di laboratorium? Pemeriksaan laboratorium ada berbagai macam tergantung dari diagnosa dan gejala klinis suatu penyakit. Macam-macam pemeriksaan laboratorium adalah di antaranya yang paling umum adalah pemeriksaan darah lengkap atau darah rutin. Sampel yang diperlukan untuk pemeriksaan darah lengkap ini adalah sampel darah. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui nilai Hemoglobin, Hematokrit, Jumlah Eritrosit, Jumlah Leukosit, Jumlah Trombosit, Indeks Eritrosit, Hitung Jenis Leukosit, dan Laju Endap Darah.

Pemeriksaan darah lengkap dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Penurunan atau peningkatan jumlah sel darah yang melewati batas normal dapat memberi petunjuk adanya gangguan kesehatan yang perlu ditindaklanjuti, misalnya infeksi, anemia, atau leukemia. Sedangkan pemeriksaan darah rutin sama dengan darah lengkap hanya saja tidak menggunakan Hitung Jenis Leukosit dan Laju Endap Darah.

Selanjutnya pemeriksaan Kimia Darah. Terdapat banyak pemeriksaan kimia darah di dalam laboratorium klinik antara lain pemeriksaan fungsi hati, jantung, ginjal, lemak darah, glukosa darah, dan lain-lain. Pemeriksaan ini menggunakan sampel serum darah. Macam-macam pemeriksaan kimia darah di antaranya Uji fungsi hati meliputi pemeriksaan kadar protein total dan albumin; bilirubin total dan bilirubin direk; serum glutamic oxaloacetate transaminase (SGOT/AST) dan serum glutamic pyruvate transaminase (SGPT/ALT). Uji fungsi jantung yaitu pemeriksaan creatine kinase (CK), isoenzim creatine kinase yaitu CKMB, dan Troponin I.

Pemeriksaan fungsi ginjal yang utama adalah ureum dan kreatinin. Ureum merupakan produk akhir dari metabolisme protein di dalam tubuh yang diproduksi oleh hati dan dikeluarkan lewat urin. Pada gangguan ekskresi ginjal, pengeluaran ureum ke dalam urin terhambat sehingga kadar ureum akan meningkat di dalam darah. Sedangkan kreatinin merupakan zat yang dihasilkan oleh otot dan dikeluarkan dari tubuh melalui urin, oleh karena itu kadar kreatinin dalam serum dipengaruhi oleh besar otot, jenis kelamin dan fungsi ginjal. Pemeriksaan asam urat juga masuk kedalam pemeriksaan fungsi ginjal.

Pemeriksaan lemak darah meliputi pemeriksaan kadar kholesterol total, trigliserida, HDL dan LDL kolesterol. Pemeriksaan tersebut terutama dilakukan pada pasien dengan riwayat stroke, jantung koroner, pasien dengan diabetes melitus (DM) dan hipertensi, serta pasien dengan keluarga yang mempunyai riwayat peningkatan kadar lemak darah. Untuk pemeriksaan lemak darah ini, sebaiknya berpuasa selama 10-12 jam.

Pemeriksaan kadar glukosa darah dipakai untuk mengetahui adanya peningkatan atau penurunan kadar gula darah serta untuk monitoring hasil pengobatan pasien dengan Diabetes Melitus (DM). Pemeriksaan kadar glukosa darah bisa dilakukan sesaat, puasa (selama 8-10 jam), dan 2 jam PP yaitu pemeriksaan kadar gula darah dua kali, saat puasa dan 2 jam sesudah makan.

Selain pemeriksaan darah, dapat dilakukan pemeriksaan urinalisa. Pemeriksaan ini sudah jelas sampelnya berupa urin yaitu cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian dikeluarkan dari dalam tubuh. Pemeriksaan urin yang dilakukan di antaranya pemeriksaan makroskopis, kimia urin dan mikroskopis. Pemeriksaan makroskopik dilakukan untuk melihat fisik urin seperti warna, kekeruhan, pH, berat jenis. Pemeriksaan kimia urin dilakukan untuk memeriksa protein, glukosa, nitrit, keton, bilirubin, blood, leukosit esterase dan lain-lain.  Sedangkan pemeriksaan mikroskopis urin yaitu pemeriksaan sedimen urin.

Pemeriksaan urin merupakan tes sederhana dan dapat memberikan banyak informasi tentang berbagai penyakit dan kondisi kesehatan lainnya, salah satunya untuk mendeteksi adanya infeksi saluran kemih, kerusakan fungsi ginjal, Diabetes Mellitus atau penyakit hati (liver).

Pemeriksaan laboratorium lainnya adalah pemeriksaan immunoserologi yang antara lain meliputi pemeriksaan IgG/IgM typhoid, tubex, atau Widal untuk mengetahui penyakit demam typhoid/typhus, pemeriksaan IgG/IgM dengue untuk mengetahui penyakit dengue fever (demam berdarah), pemeriksaan HBsAg untuk mengetahui penyakit Hepatitis B, pemeriksaan HIV, pemeriksaan leptospira dan lainnya.

Selain itu, ada juga pemeriksaan mikrobiologi yaitu pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA). Pemeriksaan BTA menggunakan sampel sputum/dahak yang kemudian dijadikan preparat lalu dilihat di bawah mikroskop. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui adanya bakteri BTA pada sampel yang kemudian hasilnya digunakan untuk mendiagnosis penyakit Tuberculosis (TB).

Jadi, pemeriksaan laboratorium itu bukan hanya pemeriksaan darah, atau pemeriksaan glukosa, kholesterol, dan asam urat saja. Itu hanya sebagian pemeriksaan yang diketahui masyarakat secara umum, padahal masih banyak pemeriksaan lainnya yang dapat diperiksa di laboratorium. Jenis pemeriksaan laboratorium dilakukan berdasarkan kondisi pasien untuk membantu menegakkan diagnosa dokter sehingga pengobatan yang diberikan benar dan tepat.

Dimuat di Harian Republika, Rabu, 2 Oktober 2019.

Print Friendly, PDF & Email

© 2019-IT Kreatif

For emergency cases