Oleh: Tommy Purnama, Marketing RSIY PDHI

Sebagai rumah sakit Islam yang sudah terakreditasi Syariah oleh MUI, RSIY PDHI terus berupaya menampilkan nilai-nilai Islam dalam pelayanannya. Salah satunya adalah bagaimana menampilkan pelayanan yang berbasis akhlakul karimah, yang terkonsep dalam 5S ICT (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun, Ikhlas, Cerdas dan Tuntas). Konsep tersebut memiliki makna yang tinggi dalam pelayanan sehingga mampu melahirkan adab dalam bekerja dan memberikan kepuasaan kepada pasien.

“S” yang pertama adalah senyum. Pelayanan yang baik haruslah didasari dengan senyuman yang tulus. Selain itu tersenyum dinilai sedekah di dalam Islam. “Tersenyum ketika bertemu saudaramu adalah ibadah.” (HR Trimidzi, Ibnu Hibban, dan Baihaqi).

Hal yang menarik lainnya tentang senyum, mampu menghasilkan endorphin dan kortisol. Hormon ini dapat membantu kita untuk mengurangi rasa stres. Tersenyum juga membantu untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh kita dengan relaksasi tubuh memungkinkan sistem kekebalan tubuh untuk bereaksi lebih cepat. Bisa dibayangkan jika senyum disampaikan pada setiap pasien yang datang akan membantu proses kesembuhannya secara tidak langsung.

“S” yang kedua adalah salam. Inilah yang membedakan pelayanan di rumah sakit Islam dengan rumah sakit lainnya. Selain menjalankan sunnah dari Rasulullah saw, salam berarti kita saling mendoakan. Dengan salam ini kami ingin menciptakan rasa persaudaraan kepada pasien sehingga membuat mereka menjadi nyaman.

“S” ketiga adalah sapa. Setelah salam hal yang dilakukan adalah menyapa pasien atau costomer. Dengan menyampain kalimat “ada yang bisa kami bantu?”, kita membuka diri untuk menawarkan bantuan dan merespon setiap kepentingan serta harapan dari pasien kepada kita. Kami selalu menawarkan ucapan dan bantuan yang ramah kepada pasien agar tercipta ruang keakraban dan kepedulian antara rumah sakit dan pasien.

“S” selanjutnya adalah sopan dan santun. Pelayanan yang baik haruslah didasari juga dengan sikap ini. Dengan sikap sopan, pasien akan merasa di wong-kan atau dihargai. Salah satu tujuan memberikan pelayanan yang sopan dan santun adalah humanisasi atau memanusiakan manusia. Nah, dengan santun-tutur kata lembut, sikap ini akan membuatkan pasien merasa dihormati dan dikasihi.

Selain lima “S” diatas hal yang harus dimiliki pemberi pelayanan yang baik adalah ICT (Ikhlas, Cerdas, dan Tuntas). Ikhlas. Bekerja adalah ibadah, begitulah semangat dalam bekerja diRSIY PDHI. Ikhlas salah satu syarat diterimanya sebuah ibadah selain ber-itiba’ kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sehingga orientasi dalam bekerja bukan hanya terhadap dunia akan tetapi akhirat, alam yang paling kekal. Selain itu, jika ikhlas sudah dimiliki seorang pekerja dalam pelayanan secara otomatis lima “S” yang sudah dibahas diatas akan terkumpul didalam diri sehingga terlahirlah pelayanan yang baik.

Cerdas. Ini adalah salah satu sifat yang dimiliki Rasulullah saw yang tentunya harus dimiliki seorang Muslim, terutama karyawan RSIY PDHI. Dengan memberikan pelayanan secara tepat dan profesional sesuai dengan standar dan prosedur yang benar dan memenuhi syarat sasaran keselamatan pasien akan memberikan rasa aman terhadap pasien. Hal ini lagi-lagi ini akan memberikan rasa nyaman sehingga membantu dalam kesembuhan pasien.

Tuntas. Inti dalam pelayanan yang baik adalah pelayanan yang tuntas. Hasil tuntas didapatkan dari seluruh unsur yang sudah dijelaskan di atas. Semua harus dipadukan dalam semua pelayanan yang baik. Jika salah satu unsur saja tidak dilaksakan maka tidak akan tercapai pelayanan yang tuntas.

Demikianlah pelayanan yang baik akan tercapai. Pelayanan yang baik akan terlaksana jika kita mampu merasakan apa yang dibutuhkan oleh pasien, merasakan menjadi diri pasien. dan menganggap pasien adalah keluarga kita. Sehingga kita akan memberikan pelayanan sebaik mungkin dan bukan hanya sebatas menggugurkan tugas kita dalam bekerja. Dimuat di Republika, Rabu, 3 Juli 2019.

Print Friendly, PDF & Email
Write a comment:

*

Your email address will not be published.

© 2019-IT Kreatif

For emergency cases