Rifda Latifa, S.Farm, Apt.


Apoteker RSIY PDHI Yogyakarta

Saat menerima obat di Rumah Sakit/Apotek/Klinik/tempat pelayanan kesehatan yang lain, apakah anda memeriksa tanggal kadaluwarsa atau expired date (ED)-nya? Tanggal kedaluwarsa adalah batas waktu obat masih dapat digunakan dengan khasiat, keamanan, dan mutu sesuai standar yang ditentukan, berdasarkan uji stabilitas yang dilakukan pada suhu dan kondisi yang sesuai dengan persyaratan penyimpanan produk. Tanggal ini ditetapkan oleh pabrik obat melalui penelitian. Bila suatu produk obat mencantumkan ED September 2019, maka obat dijamin baik hingga 30 September 2019, dengan catatan obat tersebut disimpan sesuai dengan instruksi penyimpanan seperti yang tercantum dalam kemasan obat. Apabila penyimpanan tidak baik, maka obat-obatan bisa rusak sebelum batas ED nya. Hal ini dapat dikenali dari adanya perubahan penampilan obat, seperti menjadi rapuh, berubah warna, berubah bau, menggumpal atau kemasannya rusak.

Pada umumnya obat dikemas dengan kemasan  primer, sekunder dan tersier. Kemasan primer adalah kemasan yang langsung bersentuhan dengan produk obat, seperti: botol, blister, dst. Kemasan ini berfungsi untuk melindungi produk, mengawetkan, memperindah penampilan produk dan dapat berisi informasi pada pasien, Sedangkan kemasan sekunder adalah kemasan yang bersentuhan dengan kemasan primer berguna untuk melindungi kemasan primer, misalnya berupa dus kecil.  Sedangkan kemasan tersier adalah kemasan untuk menggabungkan produk dalam jumlah yang lebih banyak, sehingga obat mudah didistribusikan.

Sampai kapan obat boleh digunakan? Apakah selalu sampai tanggal kadaluwarsa? Jawabannya adalah tidak. Obat yang kemasan primernya sudah  dibuka / dirusak hanya boleh digunakan hingga waktu Beyond Use Date (BUD)-nya. BUD ini berbeda-beda antar sediaan obat. Ada yang hanya 24 jam, 3 hari, 7 hari hingga 30 hari. Hal ini dipengaruhi oleh stabiltas obat, yang juga dipengaruhi oleh bagaimana penyimpanan obat tersebut, apakah sesuai atau tidak.

Mengingat BUD tidak selalu tercantum pada kemasan produk obat, masyarakat hendaknya aktif untuk bertanya kepada Apoteker mengenai BUD obat yang digunakan. Semua jenis obat memiliki BUD, termasuk bentuk insulin, semprot hidung, tetes mata, tetes telinga, dll. Pasien harus memperhatikan pentingnya BUD dan menerapkan pengetahuan ini ketika menyimpan, serta menggunakan produk obat yang digunakan.

Contohnya adalah produk  insulin. Insulin yang  masih baru , belum digunakan  harus disimpan di kulkas suhu 2-80C, namun tidak  boleh disimpan di  freezer (suhu beku). Penyimpanan pada suhu beku justru akan menyebabkan insulin rusak. Insulin yang disimpan dengan benar akan stabil atau dapat digunakan sampai tanggal kadaluwarsa. Namun bila sudah dibuka, maka hanya dapat digunakan sampai 28 hari. Insulin yang sudah pernah dibuka/digunakan dapat disimpan pada suhu ruang saja, di tempat yang tidak lembab, tidak terkena panas matahari atau paparan suhu tinggi.

Untuk obat tetes mata bentuk botol, apabila sudah pernah dibuka/digunakan, hanya dapat disimpan dan digunakan kembali maksimal 30 hari. Apabila sudah melebihi 30 hari, disarankan untuk membuangnya saja karena dari pabrik farmasi sudah tidak menjamin stabilitas dan kesterilannya. Penggunaan tetes mata ini harus memperhatikan sterilitasnya. Pasien atau yang akan membantu memberikan tetes mata harus cuci tangan dengan sabun  sebelum menggunakan obat dan ujung tetes mata tidak boleh disentuh dengan tangan atau dibersihkan dengan tisu maupun benda lain.  Karena BUD yang pendek, pabrik farmasi membuat inovasi berupa tetes mata mini dosis yang kemasannya lebih kecil. Kemasan mini dosis ini hanya dapat digunakan maksimal 3x24 jam setelah dibuka. Bila sudah melebihi itu, disarankan membuka kemasan mini dosis yang baru. Bila belum dibuka, kemasan mini dosis yang lain masih dapat digunakan sampai tanggal kadaluarsa yang tertera.

Untuk obat tablet yang dikemas satuan dapat digunakan sampai tanggal kadaluwarsanya. Sedangkan untuk tablet yang diracik menjadi puyer atau kapsul, dapat digunakan sampai 6 bulan sejak dibuat bila memiliki waktu ED yang masih panjang (lebih dari 2 tahun). Bila obat yang digunakan memiliki masa ED yang pendek (kurang dari 2 tahun), maka BUDnya adalah ¼ dari waktu EDnya. Misal obat tablet Paracetamol yang diracik menjadi puyer memiliki ED 4 bulan lagi. Maka, puyer Paracetamol tersebut hanya dapat digunakan sampai 1 bulan lagi. ED 4 bulan tersebut sudah tidak berlaku lagi. Untuk sediaan ini ditanyakan langsung pada apoteker di pelayanan farmasi yang meracik obatnya.

Untuk bentuk sediaan semisolid, yang kemasan maupun yang diracik, misalnya salep dan cream, BUDnya adalah 1 bulan sejak dibuat atau dibuka pertama kali. Demikian  juga dengan sediaan sirup pada umumnya. Untuk sediaan sirup biasa (seperti sirup parasetamol, obat batuk pilek, obat mag,dll)  maksimal digunakan setelah dibuka pertama kali adalah 1 bulan. Setelah lebih dari 1 bulan maka perusahaan farmasi sudah tidak menjamin lagi akan kualitasnya, sehingga sebaiknya sediaan obat tersebut dibuang saja meskipun masih ada. Khusus untuk sirup antibiotik,  BUD nya hanya 7 hari, karena penggunaan obat- obat antibiotik harus  dihabiskan, pada umumnya sirup antibiotik ini sudah habis sebelum 7 hari.

Sebagai masyarakat yang cerdas, mari mulai mengenali jenis-jenis obat-obatan yang kita gunakan, terutama untuk pasien dengan penyakit kronis yang harus mengkonsumsi obat rutin setiap hari. Apabila masih kurang jelas mengenai cara menggunakan obat, kapan tanggal EDnya, kapan tanggal BUD, bagaimana cara penyimpanannya, dan hal lain yang berkaitan dengan obat, jangan ragu untuk bertanya pada Apoteker. Tanya obat? Tanya Apoteker!. Dimuat di Harian Republika, Rabu, 18 September 2019.

Orang yang biasa melakukan salah, akan menganggap salah itu biasa. Demikian Ustad Indragiri menuturkan dalam ceramahnya bertema, “Bagi Mereka, Salah Terasa Indah”, di Musjid Multazam, RS Islam Yogyakarta PDHI, Sabtu (14/9).

Menurut Ust. Ransi, hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat al-Khafi ayat 103-104. Disebutkan, “Katakanlah (Muhammad); ‘Apakah perlu kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?. (Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya”.

Menurut ust. Ransi, orang yang paling rugi adalah orang yang merasa telah melakukan perbuatan baik, padahal ia salah. Bahkan salah baginya dibuat terasa indah. Karena itu, ada tiga ciri orang yang merugi. Pertama, dengan dibuat bahwa perbuatan salah meraka terasa indah, padahal salah. “Kapan kita melakukan perbuatan salah tapi terasa baik?”, katanya.

Ust. Ransi kemudian mengutip perkataan Ibnu Jauziyah, yang mengatakan, ketika orang banyak melakukan dosa, maka setan mendominasi wilayah hatinya sehingga yang terdengar adalah bisikan-bisikan setan. Dasarnya menurutnya, surat Al-Muthoffifin ayat 14: “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka”.

“Sehingga perbuatan salah akan dianggap biasa. Orang yang merugi adalah orang yang banyak amal tapi sedikit ilmu. Itulah yang membuat salah jadi biasa.”

Menurut ust, Ransi, orang seperti ini sangat disukai setan. Mereka akan merasa bahwa dirinya benar dan paling benar. Orang yang merasa benar tidak mau tanya, apalagi dinasihati. Maka dijadikan indah orang-orang yang melakukan salah. “Ingin berbuat baik, tapi caranya salah. Makanya di akhirat nanti, ada orang yang amalnya banyak tapi tidak diterima karena sedikit ilmu dan merasa benar,” katanya.

Kedua, orang yang merugi menurut ust. Ransi adalah orang yang beribadah tetapi niatnya salah. Niat itu penting karena pada hari kiamat ada tiga orang yang pertama kali akan dihisab berkaitan dengan niatnya. Seorang mujahid yang sahid di medan perang. Ia masuk neraka karena niatnya ingin jadi pahlawan. Seorang yang belajar ilmu agama. Ia masuk neraka karena niatnya agar disebut sebagai orang alim. Dan orang yang dermawan. Ia masuk neraka karena niatnya agar disebut dermawan. “Jadi niat itu sangat penting dan sering berubah-ubah. Maka meluruskan niat karena Allah itu penting,” jelasnya.

Niat adalah dasar dari setiap amalan. Menurut ust. Ransi, berapa banyak orang yang amalnya kecil menjadi besar lantaran niatnya. Begitu juga sebaliknya, berapa banyak orang yang amalannya besar menjadi kecil atau tidak ada pahalanya sama sekali karena niatnya. “Luruskanlah dan perbaikilah selalu niat agar tidak menjadi orang-orang yang kelak akan merugi,” tuturnya.

Ketiga, menurut Uts. Ransi adalah orang yang sombong. Ini adalah dosa besar yang dilakukan jin azazil sehingga diusir dari surge. Jin azazil yang nantinya kita sebut sebagai iblis. Ia enggan bersujud di hadapan Adam karena sombong. Dalam hadits nabi disebutkan, tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada secuil kesombongan. “Kesombongan itu ada dua, menolak kebenaran dari Allah dan meremehkan atau merendahkan orang lain,” tandasnya.

sumber: tripuspitarini.wordpress.com

Oleh:  Ery Surayka Puspa Dwi, S.Psi., Psi., CHt (Psikolog Klinis di RSIY PDHI)

Banyak orang tua zaman sekarang yang kewalahan menghadapi putra-putrinya. Terutama pasangan suami istri  yang berkarir. Tidak sedikit orang tua yang mengeluh, bahkan hampir putus asa menghadapi tingkah laku anak-anak yang menurut mereka susah diatur. Susah inilah…, susah itulah…. Padahal orang tua pun memiliki tuntutan lain selain mengurusi anak-anak di rumah. Ada setumpuk pekerjaan di kantor yang harus diurus juga. Lantas bagaimana untuk menyelesaikan problem tersebut?

Sebelum lebih jauh membahas problem solving atas pola asuh orang tua di zaman sekarang, ada baiknya kita membahas akar rumput permasalahan terlebih dahulu. Benarkah anak yang dianggap bermasalah itu bersumber dari anak itu sendiri?

Sebagai orang tua, seringkali kita terlalu buru-buru menyimpulkan : anak kok bandel, susah diatur, dan lain-lain. Perlu kita sadari bersama bahwa kunci pengasuhan ada pada orang tua itu sendiri.ketika anak bersikap A, B, C dan kita anggap sebagai sesuatu yang tidak wajar, berarti ada yang salah dengan cara pengasuhan kita. Mengapa demikian? Ya, karena segala sesuatu yang ada pada anak adalah turunan dari orang tua dan bentukan lingkungan. Unit terkecil tempat anak tumbuh adalah keluarga.

Hal yang ditemui oleh anak sejak dia bangun tidur adalah orang tua, otomatis mereka melihat detil apa yang dilakukan oleh orang tua dan menirunya. Apalagi anak yang masih berada di rentang usia 3-5 tahun, merekam memasuki masa “meniru” apa yang ada di sekitarnya.

Kepada para orang tua, sudahkah kita mengevaluasi apa saja yang kita lakukan di depan anak-anak kita? Jika belum, maka segeralah melakukan introspeksi pada diri sebelum menyalahkan anak dengan segala perilakunya. Kebanyakan dari kita cenderung berpikir pragmatis, bahkan menyalahkan zaman.  Misalnya, memasuki zaman yang serba canggih, gadget, apa-apa serba virtual, yang membawa dampak serius bagi proses perkembangan anak-anak. Sebagai orang tua yang bijak, seharusnya kita mampu menganalisis apa yang terjadi, apa yang menjadi kebutuhan, dan apa yang seharusnya dihindari.

Sebagai contoh kasus gadget, kita sering hilang kendali ketika melihat anak-anak kecanduan gadget. Menyalahkan ini-itu, padahal titik mula kesalahan ada pada kita yang memberikan akses gadget tanpa kendali. Di sinilah pentingnya memahami situsi dan menganalisisnya agar mampu mengambil sikap yang tepat. Sebagai orang tua, kita harus pandai-pandai memodifikasi cara pengasuhan. Tidak semua anak bisa diperlakukan sama, oleh karenanya kita harus memiliki strategi yang tepat dan bijak dalam mengasuh anak di era milenial seperti sekarang. Marilah menjadi orang tua yang cerdas!

© 2019-IT Kreatif

For emergency cases